Tips & Trik Teknologi

Kenapa Banyak Aplikasi Gagal Setelah Dideploy? Ini 5 Penyebab Utamanya

31 Oktober 2025 09:08 WIB

by Khoirul Roziq

Banyak bisnis dan instansi sudah mengeluarkan biaya besar untuk membuat aplikasi, tapi setelah di-deploy ke server, hasilnya jauh dari harapan. Aplikasi yang tadinya lancar saat diuji malah error, lemot, atau bahkan tidak bisa digunakan sama sekali.

Kalau kamu pernah mengalami hal seperti ini, tenang kamu tidak sendirian. Masalah ini cukup umum terjadi, terutama pada proyek yang dikerjakan oleh vendor tanpa perencanaan dan pengujian yang matang.

Lalu, kenapa banyak aplikasi gagal setelah di-deploy? Yuk kita bahas satu per satu penyebab utamanya.

1. Tidak Ada Tahap UAT (User Acceptance Test)

Salah satu kesalahan paling sering adalah melewati tahap User Acceptance Test (UAT).
Banyak vendor langsung melakukan deployment tanpa melibatkan pengguna akhir untuk mencoba aplikasi terlebih dahulu.

Padahal, tujuan UAT adalah memastikan aplikasi benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan.
Tanpa UAT, risiko terjadinya kesalahan fungsi atau ketidaksesuaian fitur jadi sangat besar.

Solusi:
Lakukan uji coba bersama user sebelum aplikasi resmi dirilis. Dengarkan masukan mereka, lalu lakukan perbaikan sebelum sistem dijalankan secara penuh.

2. Lingkungan Server Berbeda dengan Lingkungan Development

Aplikasi sering berjalan lancar di komputer developer, tapi gagal di server produksi.
Penyebabnya sederhana: lingkungan server berbeda.
Mulai dari versi bahasa pemrograman (seperti PHP atau Node.js), konfigurasi database, hingga dependency yang tidak cocok.

Solusi:
Gunakan staging server yang memiliki konfigurasi serupa dengan server produksi. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui potensi error sebelum sistem benar-benar diluncurkan.

3. Kurangnya Monitoring dan Logging

Banyak aplikasi yang gagal karena tidak memiliki sistem monitoring atau logging yang memadai.
Ketika terjadi error, tidak ada catatan atau pelaporan otomatis, sehingga developer kesulitan mengetahui sumber masalah.

Solusi:
Gunakan tool seperti Sentry, PM2, atau Laravel Telescope untuk memantau performa dan error aplikasi secara real-time. Monitoring bukan hanya pelengkap, tapi bagian penting dari pemeliharaan sistem.

4. Dokumentasi yang Buruk atau Tidak Ada Sama Sekali

Dokumentasi sering dianggap remeh. Padahal, tanpa dokumentasi, tim baru akan kesulitan memahami arsitektur dan logika sistem.
Akibatnya, ketika ada pembaruan atau bug yang perlu diperbaiki, risiko kesalahan justru meningkat.

Solusi:
Selalu buat dokumentasi teknis yang jelas: mulai dari struktur database, alur kerja sistem, hingga konfigurasi server. Dokumentasi yang baik akan menghemat waktu dan biaya di masa depan.

5. Tidak Ada Rencana Maintenance

Kesalahan paling fatal adalah menganggap deployment sebagai tahap akhir proyek.
Padahal, aplikasi adalah sistem yang harus dirawat secara rutin.
Tanpa pembaruan, backup, dan patch keamanan, aplikasi akan mudah rusak dan tidak relevan lagi dalam beberapa bulan.

Solusi:
Siapkan rencana maintenance sejak awal. Tentukan siapa yang bertanggung jawab, seberapa sering dilakukan update, dan bagaimana prosedur backup data dilakukan.

 

Kegagalan aplikasi setelah di-deploy bukan semata-mata karena koding yang salah, tapi karena proses pengembangan yang diabaikan.
UAT, environment yang konsisten, monitoring, dokumentasi, dan maintenance — semua itu bagian penting dari kesuksesan proyek perangkat lunak.

Jadi sebelum kamu memutuskan untuk bekerja sama dengan vendor, pastikan mereka memahami hal-hal ini dan punya standar kerja yang jelas.

Kalau kamu ingin belajar lebih dalam tentang pengembangan aplikasi yang stabil, scalable, dan tahan lama,
kunjungi www.ngaosi.com — platform belajar teknologi untuk semua orang yang ingin membangun sistem dengan cara yang benar.